Selasa, 15 Januari 2013

Bengkel Non-Resmi Tak Sesuai Standar Prinsipal?

Bengkel resmi agen pemegang merek (APM) rata-rata memiliki standar kualitas yang baik, sesuai dengan syarat dari prinsipal-nya. Artinya, ada standar yang berlaku secara internasional, misalnya workshop BMW atau Mercedes-Benz di Indonesia, memang sesuai dengan standar kedua manufaktur itu secara global.

Demikian pula dengan bengkel resmi Toyota, Suzuki, Ford, Honda, Chevrolet, Mazda, Daihatsu, Subaru, Ferrari dan sebagainya.

Tetapi, bagaimana bila suatu ketika Anda harus masuk ke bengkel non-resmi? Atau ketika Anda memang ingin memilih perawatan mobil Anda diserahkan kepada bengkel non-resmi? Agaknya, Anda harus punya prinsip bahwa penampilan sebuah bengkel tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pekerjaan dan layanannya.

Artinya, bisa saja sebuah bengkel tampil bagus dan megah, namun kualitas pekerjaannya kurang memuaskan. Atau sebaliknya, suatu bengkel kelihatan bergaya 'asli bengkel' (terlihat kotor dengan banyak ceceran oli atau tool yang berserakan), termasuk bangunan yang sederhana, namun kerjanya memuaskan.

Memang tak mudah menemukan bengkel non-resmi yang cocok di hati. Kuncinya adalah 'teliti sebelum membeli'. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang suatu bengkel yang Anda incar, baik dari teman-teman, mailing list, atau media cetak.

Kemudian bila Anda merasa berminat pada bengkel itu, mulailah dengan meminta layanan yang mudah dan murah, misalnya penggantian oli, spooring-balancing dan sebagainya. dari pekerjaan kecil seperti itu, Anda bisa menilai kira-kira seperti apa kualitas bengkel itu untuk pekerjaan yang lebih besar.

Selain itu, jangan ragu untuk berkomunikasi dengan mekanik, manajer atau pemilik bengkel, untuk mengetahui sejauh mana kepedulian mereka kepada pelanggan, sekaligus kemampuan mereka dalam dunia mobil. Bila Anda berhasil menemukan bengkel non-resmi yang cocok, maka selanjutnya perawatan mobil Anda bisa lebih murah, berkualitas, fleksibel dan nyaman.(kpl/tr/bun)

Sumber: Otosia.com

Rekomendasi untuk kamu:

Newsletters