Jumat, 25 Januari 2013

Merawat busi, mesin akan selalu sehat

Otosia.com -

Busi punya peranan sangat penting pada tunggangan harian Anda. Untuk itu, pemantik pengapian ini perlu mendapat perawatan yang serius, khususnya untuk kendaraan mesin bensin.

Jangan biarkan busi hingga waktu lama sampai motor mati mendadak atau sebabkan mesin 'pincang' (mesin lebih dari 1 silinder). Mengganti dengan busi baru juga belum tentu cocok, karena tiap busi punya kualitas, fungsi dan karakter beda.

Bila mesin 'pincang' atau sulit hidup, jangan langsung memvonis busi rusak atau mati. Periksa dulu busi ini untuk mencari penyebabnya, apakah terbakar atau tertutup pelumas. Perhatikan, warna hitam di busi tak berarti usia busi berakhir.

Jika ada noda hitam kering (pekat) gosong menutup kepala busi. Tapi apalagi elektroda meleleh, baru bisa dipastikan usia busi berakhir. Sebab kepala busi mengalami pembakaran berlebihan dan tidak memercikkan api.

Namun bila noda hitam mengilap, menandakan lapisan kepala serta elektroda busi tertutup pelumas. Cukup bersihkan dengan amplas, busi dapat digunakan kembali.

Untuk motor harian, kisaran waktu pemeriksaan dan perawatan sekitar dua minggu sekali. Caranya, bersihkan noda serta kotoran di ujung elektroda dua kutub busi, sehingga terus menghasilkan pijaran api sempurna.

Periksa material busi. Busi generasi terbaru, kaki elektrodanya mengandung perak. Bahan ini diakui memberi daya tahan lebih. Sebaliknya, kaki busi rentan patah saat dibersihkan atau saat diatur gap elektrodanya.

Cara termudah untuk membersihkan noda sisa pembakaran yang tipis atau lembut, disemprot cairan pembersih atau WD, lalu bersihkan dengan sikat kawat halus atau amplas dan dilap dengan kain bersih.

Membersihkan busi konvensional dari noda sisa pembakaran bisa dengan menggunakan sikat kawat atau amplas. Perkakas ini membersihkan kaki elektroda berbahan baja. Saat membersihkan, hindari pengamplasan bagian dinding keramik busi karena dapat memperpendek usia pakai busi.

(kpl/tr/vin)

Rekomendasi untuk kamu:

Newsletters