Bos Yamaha MotoGP puji antusiasme Indonesia

Bos Yamaha MotoGP puji antusiasme Indonesia

Otosia.com - Ketika Yamaha Factory Racing meluncurkan motor YZR-M1 terbaru di Jerez, Spanyol, hari Jumat (22/3), Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo sekali lagi tidak akan memiliki sponsor utama untuk MotoGP musim ini.

Bahkan kembalinya Rossi yang merupakan sembilan kali juara dunia, tak membuat sponsor tergiur untuk melakukan investasi besar-besaran untuk Yamaha MotoGP.

Masalah kurangnya sponsor ternyata tak hanya dialami oleh tim Garpu Tala. Tim Repsol Honda pun musim ini tak memiliki tambahan sponsor baru. Ducati bahkan kehilangan tiga sponsor sekaligus musim ini.

Menurut Managing Director Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis, permasalahan ini disebabkan oleh krisis ekonomi global dan juga orientasi MotoGP yang masih terlalu mengarah ke benua Eropa. Padahal, pasar Asia bisa menjadi kunci kesuksesan mereka.

"Saya rasa hal ini disebabkan krisis ekonomi global, dan juga status yang disandang oleh MotoGP masa kini. MotoGP masih terlalu fokus pada benua Eropa. Kunci bisnis Yamaha adalah Asia, dan MotoGP harus lebih sering berkunjung ke sana," ujar Jarvis.

Tahun ini saja, MotoGP yang menggelar 18 seri hanya mengunjungi tiga negara Asia, yakni Qatar, Malaysia dan Jepang. Jarvis berpendapat bahwa negara di kawasan Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk membangkitkan MotoGP yang kini kerap dinilai tak kompetitif lagi.

Jarvis pun menyebut-nyebut Indonesia sebagai tempat yang cocok untuk menggelar salah satu balapan MotoGP. Ia mengaku kagum atas antusiasme masyarakat Tanah Air ketika mengunjungi Jakarta bersama Rossi dan Lorenzo akhir Januari lalu.

"Saya mengunjungi Indonesia bersama Valentino dan Jorge. Saya tak pernah melihat antusiasme sebesar itu di manapun. Ada 3500 dealer Yamaha yang hadir, dan ini sangat fenomenal. Tahun ini saja, Yamaha Indonesia berencana menjual 2,8 juta unit motor. Selain Indonesia, kita masih memiliki Thailand, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Jadi Asia Tenggara merupakan kunci penting dan kami belum terlalu sering ke sana," tutupnya. (mcn/kny)

© PT Topindo Atlas Asia 2024