Selasa, 4 November 2014

Hati-Hati! Ganti Oli Motor Jangan Telat

Mengganti oli motor sebaiknya dilakukan tepat waktu dan tidak menundanya. Bila tidak, maka akan mengganggu mesin motor yang dikendarai. Selain itu, telat ganti oli juga bisa menyebabkan kurang nyamannya berkendara seseorang.

Oli motor sebaiknya diganti setiap setelah melakukan perjalanan 2.000 kilometer. Jarak tempuh tersebut merupakan batas maksimal pergantian oli.

Ketua Umum Solo Male Bikers (Makers), Yustinus Kikih, mengatakan selain pergantian oli, sebaiknya motor juga perlu diservis. Tak perlu menservis mesin motor secara keseluruhan, tapi cukup servis ringan, seperti menyetel plat, mengecek karburasi, rem, headlamp, rantai dan sebagainya.

Servis ringan diperlukan lantaran meskipun sedikit, katanya, pasti terdapat bagian motor yang kendor. Karena itu perlu disetel ulang.

“Biasanya setelah menempuh perjalanan 2.000 kilometer, getaran motornya mulai terasa kasar. Perseneling juga keras,” ujar Kikih saat ditemui Solopos.com, Kamis (12/9/2013).

Getaran keras itu, sambung Kikih, disebabkan oleh menguapnya oli pada mesin. Oli di dalam mesin bisa menguap karena dipakai untuk melumasi seker yang terus bergerak ketika mesin dinyalakan. Lama-lama oli menguap lantaran kena panas dari gerakan seker. Bila oli menguap, maka lama-lama oli akan habis. Bila oli habis, maka akibatnya justru akan merusak mesin.

Kerusakan mesin, kata dia, terutama pada seker yang mengembang di dalam silinder mesin. Bila oli kurang, maka bisa membahayakan pengendaranya sendiri karena seker bisa ngancing dan tidak bisa bergerak di dalam silinder. “Ring silinder dan stang sekernya juga bisa rusak,” ungkap Kikih.

Guna mengecek apakah tarikan mesin motor keras atau tidak, kata dia, saat memanasi mesin motor sebetulnya sudah bisa dirasakan getarannya. “Telat lebih dari 2.000 kilometer boleh, tapi mentok paling 2.500 kilometer. Kalau lebih dari itu kendaraan sangat tidak nyaman untuk dikendarai,” paparnya. Ia mengatakan, penggantian oli yang tepat waktu bisa menjadikan mesin lebih awet.

Ia juga menyarankan agar tidak berganti-ganti jenis oli. Pasalnya bila oli yang digunakan tidak cocok dengan kondisi mesin, bukannya mesin menjadi lebih awet, tapi justru oli tersebut mengerak di dalam mesin. “Dulu saya pernah memakai oli yang salah, akibatnya oli mengerak dan mesin harus servis berat,” ungkap Kikih.

Ia tidak memungkiri bahwa setiap oli pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Namun ia juga menyarankan agar pemilik motor juga harus jeli dengan mesin motornya, sehingga bisa diketahui oli apa yang sesuai dengan model mesin motor tersebut. “Jakan termakan dengan iklan oli yang ada di televisi, sebab oli yang ditampilkan secara baik di iklan itu belum tentu baik pula untuk motor kita,” paparnya.

Sumber: solopos.com

Newsletters