Rabu, 26 Desember 2012

Atasi lembab, MBtech gunakan bahan kulit sintetis

Cuaca di Indonesia kian hari kian tak bersahabat dan susah ditebak. Apalagi jika musim hujan datang, genangan air pasti terjadi di mana-mana, bahkan hingga sebagian wilayah menjadi banjir.

Bagi pemilik mobil, genangan air dan banjir menjadi ancaman tersendiri. Karena dipastikan, gangguan alam ini memiliki sifat destruktif yang cukup besar bagi kendaraan. Tak hanya bagi sektor kaki-kaki dan sistem di kolong mobil, namun juga mengancam interior mobil lantaran udara menjadi sangat lembab.

Karpet plafon dan jok yang masih standar atau bawaan pabrik beresiko bau 'apak' karena lembab. Perlu treatment khusus dan kadang merepotkan jika ingin membuatnya harum.

Salah satu solusi agar karpet tak lembab adalah dengan cara dijemur, dengan melepaskan jok dan 'memanggang' mobil di bawah terik matahari. Bisa juga ke salon mobil, asalkan memiliki alokasi dana yang cukup.

Menjadi masuk akal jika iklim yang tak bersahabat dipergunakan sebagai dasar penggantian material untuk interior, dari plastik menjadi bahan kulit sintetis. Sebab bisa dibilang, bahan jok sintetis ini maintenance-free, yakni hanya cukup dengan menggunakan lap basah untuk membersihkannya.

Untuk itulah MBtech menggunakan bahan material kulit sintetis, agar terhindar dari kondisi yang lembab jika terkena air. Hal itu dikarenakan sifat bahan ini mampu mencegah air atau udara lembab menyusup ke busa jok.

Jika jok kebanjiran pun dan ingin kembali sempurna, masih bisa dilakukan dengan melepas MBtech dan dijemur sebentar. Setelah kering tinggal pasang lagi dengan sedikit mengeluarkan biaya ke tukang jok. Bandingkanlah dengan jok bawaan pabrik.

Material pabrik jelas tak mungkin direkondisi karena effort-nya akan kelewat besar. Jikapun dipaksakan, kondisi lapisan jok tidak bakal kembali seperti semula. Begitu pun dengan material kulit asli. Perlu special treatment untuk mengembalikan kulit ke kondisi bagus. Selain biayanya mahal, perlu waktu yang relatif lama.

(kpl/tr/bun)

Rekomendasi untuk kamu:

Newsletters