Rabu, 9 Januari 2013

Tucuxi Dahlan Bukan Buggati Apalagi Ferrari!

Danet Suryatama, sosok di balik perancang Tucuxi, merupakan jebolan ITS yang kemudian bersekolah lagi di Michigan, AS. Dia pernah bekerja selama 10 tahun di perusahaan mobil terkenal di Amerika yakni Chrysler.

Mobil dengan estimasi prospek penjualan seharga Rp 1, 5 miliar ini merupakan kendaraan listrik level atas. Pasalnya dilihat dari beberapa sedikit spesifikasi Tucuxi, kecepatan lajunya mencapai kurang lebih 200 km/h.

Tucuxi

Electric car ini memiliki desain bodi yang unik dan terlihat sporty, dengan atap mengkurva dan rumah roda gemuk. Dilengkapi pula dengan ban profil tipis dan lebar plus velg lebar khas sebuah sports car. Memiliki buritan yang sama persis dengan desain bumper depan, seakan-akan mobil simetris (depan-belakang).

Fenomena yang muncul dan terdengar ganjal adalah ketika sebelum dan sesudah mobil listrik ini jadi, banyak orang bahkan media berita menyebutnya dengan nama Ferrari dan Buggati Veyron. Jika hal tersebut merupakan salah satu strategi pengenalan mobil listrik di Indonesia, mungkin sah-sah saja. Namun ada baiknya penyebutan nama lain harus memandang sebagian besar faktor kesamaan.

Sebenarnya ada mobil Jepang yang secara fakta memiliki detail desain yang punya kesamaan lebih banyak dibanding dengan Ferrari dan Buggati. Mobil konsep ini adalah Lexus 2054 dalam film futuristik 'Minority Report' yang dibintangi Tom Cruise pada tahun 2002.

Lexus 2054 dan Tucuxi

Mungkin bisa dikatakan bahwa sang kreator Tucuxi sebelumnya sudah pernah melihat Lexus 2054 ini, sehingga menjadi referensi desainnya. Dari segi desain bodi Tucuxi dan Lexus 2054 memiliki banyak kesamaan antara lain bentuk Lexus 2054 juga elips (bulat), mengkurva, memiliki desain dan bahan atap dari kaca dengan posisi bumper depan yang 'pesek'. Bedanya pada Lexus 2054 tidak nampak grill seperti pada Tucuxi.

Tucuxi dan Lexus 2054

Selain itu jika dilihat dari kaca pintu mobil juga sama-sama berdesain lebar dan mengerucut (meruncing) ke belakang, berbeda dengan mobil pada umumnya. Penempatan kaca spion juga jika diperhatikan sama persis, bentuknya pun bisa dikatakan sama persis dengan desain ramping dan runcing. Belum lagi desain pintu yang sama-sama meniru teknologi pintu ala Lamborghini (bukaan pintu ke atas).

Lantas ketika Tucuxi disebut dengan nama Buggati bahkan Ferrari, menjadikan hal yang aneh. Apalagi ketika kita membandingkan Tucuxi dengan kedua model mobil sport tersebut. Pasalnya hanya segelintir kesamaan saja yang ada pada Tucuxi. Mungkin salah satunya adalah warna merah yang identik dengan Ferrari, sedangkan Buggati mungkin dari segi grill atau sedikit aspek bodi (sedikit elips).

Faktanya selama ini Ferrari tidak pernah menciptakan mobil modern (sport car) dengan desain bodi yang gemuk (elips). Hal ini dikarenakan mobil-mobil cepat mereka sangat mempertimbangkan aspek aerodinamika guna menunjang performa dan kesan spoty. Garis-garis tajam selalu melekat pada setiap mobil ciptaan Ferrari. Lantas apa hanya karena warna merah saja yang sama?

Tucuxi dan Buggati Veyron

Ketika beralih ke Buggati, tepatnya Veyron, memang Buggati juga pernah memproduksi varian ini dengan warna merah, melengkapi versi warna putih. Desain grill Buggati lebih berbentuk setengah lingkaran, sedangkan Tucuxi berbentuk segitiga. Desain bumper depan dan belakang meruncing, tidak nampak sebuah kesimetrisan, lain halnya yang ada pada Tucuxi yang simetris (bulat). Lantas apa yang membuat Tucuxi mendapat sebutan Buggati?

Lexus 2054, Tucuxi dan Buggati Veyron

Masalah sebutan memang hal yang sepele, namun penjelasan fakta-fakta yang ada akan lebih penting daripada hanya sebuah sebutan yang asal-asalan. Alangkah lebih lagi jika kita menyebutnya dengan nama Tucuxi, mengingat sudah menjadi nama sesungguhnya.

Arti nama Tucuxi juga menjadi bahan pembicaraan banyak masyarakat Indonesia. Menurut Danet, nama Tuxuci diambil dari nama ikan lumba lumba yang langka dari Amerika. “Ya bisa juga diartikan 'Tuku sih', yang dalam bahasa Jawa artinya 'beli dong'.”(kpl/abe)

Sumber: Otosia.com

Rekomendasi untuk kamu:

Newsletters